Dialog Antar Umat Beragama



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Agama merupakan salah satu pembatas peradaban. Artinya, umat manusia terkelompok dalam agama Islam, Kristen, Katolik, Kong Hu Chu dan sebagainya. Potensi konflik antar mereka tidak bias dihindari, oleh karena itu, unutk mengantisipasi pecahnya konflik antar umat beragama perlu dikembangkan upaya-upaya dialog untuk mengeliminir perbedaan-perbedaan pembatas di atas. Dialog antar umat beragama merupakan sarana yang efektif menghadapi konflik antar umat beragama. Pentingnya dialog sebagai sarana untuk mencapai kerukunan, karena banyak konflik agama yang anarkis atau melakukan kekerasan.
Di Indonesia yang pluralitas agama, dialog menjadi pilihan alternatif yang ideal dalam penyelesaian konflik antar umat beragama. Fenomena konflik antar umat beragama harus ditangani, karena berdampak sangat negatif. Untuk menghadapi fenomena ini, para pemuka lintas agama tingkat pusat harus melakukan dialog antar umat beragama.

B.       Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian dan hakikat dialog antar agama?
2.    Bagaimanakah prinsip-prinsip dalam dialog antar agama?
3.    Apakah alasan dan tujuan dialog antar agama?
4.    Bagaimana bentuk-bentuk dialog antar agama dilaksanakan?
5.    Adakah metode pendekatan dalam dialog antar agama?

C. 
PEMBAHASAN

A.      Pengertian dan Hakikat Dialog Antar Agama
Dialog ditinjau dari asal usul kata berasal dari kata Yunani dia yang berarti antara, di antara, bersama, dan legein yang berarti berbicara, bercakap-cakap, bertukar pemikiran dan gagasan. Secara harfiah, dialogos atau dialog adalah berbicara, bercakap-cakap, bertukar pikiran dan gagasan bersama.
Secara substansial, dialog adalah “percakapan dengan maksud untuk saling mengerti, memahami, menerima, hidup damai, dan bekerja sama untuk mencapai kesejahteraan bersama”.[1] Dialog antar agama bukan sekedar memberi informasi, mana yang sama dan mana yang berbeda antara ajaran satu agama dan lainnya. Dialog antar agama bukan pula merupakan usaha agar orang yang berbicara menjadi yakin akan kepercayaannya, dan menjadikan orang lain mengubah agamanya kepada agama yang ia peluk.
Dialog keagamaan muncul ketika hubungan antar umat beragama mengalami keretakan dan ketegangan. Mungkin saja, ketegangan itu disebabkan bukan atas perbedaan keyakinan. Hal ini karena dasar teologis dan doktrinal dari agama-agama mengajarkan sikap toleransi, saling menghormati dan mencintai. Penyebab gesekan-gesekan dan keretakan itu bisa saja merupakan:
1.    Kepentingan politik, ekonomi, dan kedangkalan beragama manusia. Kepentingan-kepentingan golongan tertentu yang sering mengatas namakan agama untuk kemudian menyeret umat suatu agama ke dalam konflik dengan agama lain.
2.    Karena masyarakat kurang memahami ajaran-ajaran dan pesan-pesan moral dari agama yang membuat mereka menyikapi “klaim kebenaran” dalam agama secara berlebihan.[2]
Dialog dibutuhkan dalam menjalani hidup di tengah pluralisme yang muncul dalam berbagai macam bentuk. Misalnya: pluralisme keyakinan, pluralisme etnis, dan pluralisme agama. Pluralisme tidak boleh dipahami sekedar “kebaikan negatif” (negative good), yang hanya digunakan untuk menyingkirkan fanatisme. Dengan demikian pluralisme dapat digunakan untuk menghargai kemajemukan serta penghormatan terhadap pihak lain, membuka diri terhadap warna-warni keyakinan, kerelaan untuk berbagi, keterbukaan untuk saling belajar (inklusivisme), serta keterlibatan diri secara aktif dalam dialog dalam rangka mencari kesamaan (common believe), dan menyelesaikan konflik.
Dialog antar agama yang hakikatnya adalah pertemuan hati dan pikiran antar berbagai macam agama dan aktualisasi sekaligus pelembagaan semangat pluralisme keagamaan. Dialog antar agama dapat menjadi media komunikasi antar pemeluk agama dalam tingkatan agamis. Dialog bukan debat, melainkan saling memberi informasi tentang agama masing-masing, baik tentang persamaan maupun perbedaannya. Dialog juga tidak mengurangi loyalitas dan komitmen seseorang terhadap kebenaran keyakinan agama yang sudah ia pegang, akan tetapi lebih memperkaya dan memperkuat keyakinan. Dialog juga diharapkan mampu menjauhkan terjadinya sinkretisme, karena dialog akan menambah pengetahuan tentang agama atau kepercayaan lain dan pada saat yang sama keyakinan terhadap kebenaran agama yang dipeluknya akan semakin teruji dan tersaring.
Melalui dialog antar agama, kita berharap memasuki  suatu abad di mana teologi agama-agama akan berkembang. Pada dasarnya, keyakinan merupakan jalan lintas ke dalam dialog antaragama sebagai suatu proses spiritual. Karena, dialog antaragama lebih dari sekedar pertemuan pada tingkat pribadi dan sosial, lebih dari sekedar diskusi tentang kepercayaan, ritual dan norma aturan moral. Pada tingkatannya yang paling dalam, kegiatan tersebut mampu menyentuh jiwa dari para peserta dan mengawali suatu perjalanan spiritual bersama.
Menurut Ewert Cousins keyakinan (agama) merupakan anugerah yang mulia yang tidak oleh ditimbun, tetapi harus dibagi. Salah satu cara untuk membaginya melalui proses dialog antaragama. Dalam dialog kita tidak hanya mengetahui bagaimana agama dalam kehidupan sosial mereka, tetapi juga dapat mengetahui aspek spiritual mereka.[3]
Dialog menjadi awal terbentuknya kerja sama antaragama yang akan berlanjut pada kerja sama sosial. Aksi-aksi kolaboratif melibatkan berbagai kalangan agama dalam menangani problematika kemanusiaan.[4]

B. Prinsip-prinsip Dialog
Problem paling besar dalam kehidupan bergama dewasa ini yang ditandai oleh kenyataan pluralisme adalah “bagaimana teologi dari suatu agama mendefinisikan diri di tengah agama-agama lain”. Oleh karena itu berkaitan dengan semakin berkembangnya pemahaman mengenai pluralisme agama, berkembanglah suatu paham teologia religionum, yaitu suatu paham yang menekankan pentingnya saat ini untuk berteologi dalam konteks agama-agama. Karenanya, diperlukan beberapa prinsip dasar dalam melakukan dialog antaragama. Prinsip-prinsip dasar ini dapat berasal dari norma masing-masing agama, bisa juga berasal atas dasar pengalaman pribadi dari manusia yang beragama, baik pengalaman langusung maupun pengalaman atas dasar memahami fenomena beragama.
Raimundo Panikkar memberikan norma-norma keagamaan yang dapat dijadikan pijakan dalam dialog atau, menurut pemahamannya adalah “perjumpaan agama harus benar-benar bersifat keagamaan”.
Pertama, “harus bebas dari apologi (pembelaan) khusus”. Penganut agama apapun yang mendekati penganut agama lain dengan gagasan apriori yang membela agamanya sendiri mungkin akan mendapatkan pembelaan dari agama tersebut, dan tentu saja tidak perlu menanggalkan kepercayaan dan pendiriannya. Hal seperti itu bukanlah dialog agama, bukan perjumpaan, apalagi usaha saling menyumbang dan menuyuburkan. Kita harus menghapus setiap sikap apologi kalau memang ingin bersungguh-sungguh bertemu dengan penganut dari tradisi keagamaan lain. Bersikap apologi mempunyai tempat dan fungsinya sendiri, tidak dalam perjumpaan agama-agama.
Kedua, “harus bebas apologi umum”. Kita sangat memahami keresaham penganut agama modern yang menyaksikan “ketidakbergamaan” bahkan “anti-keagamaan” . Tetapi akan salah jika kita membangun semacam ikatan keagamaan yang didasarkan atas rasa takut dan  khawatir ini. Sikap untuk menawarkan persekutuan umum bagi agama untuk melawan ketidakpercayaan mungkin dapat dipahami, tetapi bukan sikap keagamaan.
Ketiga, “berani menghadapi tantangan pertobatan” supaya perjumpaan itu bersifat keagamaan, ia harus taat secara penuh pada kebenaran dan terbuka pada realitas. Memasuki medan yang baru: “perjumpaan agama-agama mengandung tantangan dan risiko”. Ia harus sadar bahwa kemungkinan akan kehilangan suatu keyakinan khusus atau bahkan agamanya sendiri.
Keempat, “dimensi historis penting tetapi tidak mencukupi”. Agama bukan sekedar suatu hubungan vertikal dengan yang mutlak, melainkan pertalian juga dengan umat manusia. Agama mempunyai tradisi, mempunyai dimensi historis. Oleh karena itu, dalam perjumpaan agama bukan hanya semata-mata pertemuan dua ataua lebih orang, bukanlah perjumpaan para ahli sejarah, melainkan meneruskan dan memperkembangkan tradisi dan dimensi historis.
Kelima, “bukan sekadar kongres filsafat”. Dialog keagamaan bukanlah sekedar pertemuan para filsuf untuk membicarakan masalah-masalah intelektual. Agama jauh dari sekedar ajaran-ajaran. Setiap pemahaman atau tafsiran dari luar suatu tradisi haruslah cocok, paling tidak secara fenomenologis, dengan tafsiran dari dalam, yaitu dari sudut pandang penganutnya sendiri.
Keenam, “bukan sekadar simposium teologis”. Perjumpaan agama bukanlah sekadar  usaha untuk membuat orang luar memahami maksud kita. Akan tetapi, yang lebih penting adalah meresapi lebih dahulu apa yang akan ditafsirkan mendahului setiap penjelasan. Konsep agama satu dengan yang lain sama, oleh karena itu, diperlukan pengertian homologi, bahwa setiap agama tidak memiliki hubungan langsung, tidak dapat saling diterjemahkan, tetapi keduanya homolog, masing-masing memainkan peran yang serupa, yaitu menunjukkan pada suatu nilai tertinggi maupun suatu pengertian yang mutlak.
Ketujuh, “bukan sekadar ambisi pemuka agama”. Setiap dialog antaragama dapat terjadi dalam tingkat yang berbeda dan tiap tingkat memiliki kekhasannya sendiri. Pertemuan di antara para wakil ini bukanlah dalam dialog yang berusaha mencapai kedalaman sejauh mungkin, tetapi hanya berkewajiban memelihara tradisi, menemukan cara untuk bertoleransi, bekerja sama dan memahami. Mereka harus memecahkan problem-problem praktis bersama.
Kedelapan, “perjumpaan agama dalam iman, harapan dan kasih”. Sekalipun peristilahan ini bernada Kristiani maknanya bersifat universal. Dengan iman, dimaksudkan sebagai suatu sikap perumusan dogmatis dari pengakuan yang berbeda-beda. Sikap ini menyentuh pemahaman, sekalipun dalam kata-kata dan konsep-konsep berbeda. Dengan harapan, dipahami sebagai sikap mengharapkan yang melampaui segala harapan, dapat melompati tidak hanya hambatan kemanusiaan, tetapi juga melompati segala bentuk pandangan yang semata-mata duniawi dan memasuki inti dialog, seolah-olah didesak dari atas untuk menjalankan tugas yang suci. Dengan cinta, dimaksudkan sebagai gerak hati kekuatan yang mendorong kita kepada sesama dan membimbing kita untuk menemukan kekurang pada diri kita[5].

C. Alasan dan Tujuan Dialog Antar Agama
Ada beberapa alasan dan tujuan dialog antar agama, antara lain secara sosiologis dan teologis. Alasan dan tujuan secara sosiologis antara lain[6]:
1.    Pluralisme agama di dunia adalah suatu kenyataan yang makin lama makin jelas terlihat karena mudahnya komunikasi.
2.    Semakin tinggi keinginan untuk mengadakan hubungan dengan yang lainnya. Apalagi aspek kesamaan antar kelompok umat manusia dan agama yang satu dengan yang lain semakin diakui dan dirasakan daripada apa yang memisahkan.
3.    Dialog antar agama membantu tiap peserta untuk tumbuh dalam kepercayaan sendiri, manakala ia berjumpa dengan orang yang berlainan agama dan bertukar pikiran tentang berbagai keyakinan dan amalan yang dijalankan oleh masing-masing pemeluknya.
4.    Memperkaya pengetahuan tentang agama lain.
5.    Dialog antar agama diharapkan mampu untuk meningkatkan kerja sama antar pemeluk agama, meningkatkan toleransi, dan menghargai perbedaan.
6.    Semua manusia adalah satu, dan kesatuan inilah yang mendorong umat manusia untuk meningkatkan perdamaian universal[7].
Alasan dan tujuan secara Teologis:
1.    Seluruh umat manusia hanya mempunyai satu asal, yaitu Tuhan. Dan diciptakan dengan tujuan akhir yang sama yaitu Tuhan sendiri. Oleh karena itu hanya ada satu rencana Tuhan bagi setiap manusia yaitu, satu asal dan satu tujuan. Perbedaan itu memanglah ada tapi jika dibandingkan dengan persamaan-persamaan yang begitu banyak dan fundamental, pebedaan-perbedaan tersebut tidaklah penting.
2.    Karena alasan-alasan teologis inilah pada akhirnya pemeluk agama mengambil tindakan positif terhadap agama-agama lain. Hal ini bisa dilakukan dengan dialog dan kerjasama antar agama untuk sama-sama mengenal, memelihara, dan meningkatkan perbuatan-perbuatan spiritual dan moral yang terdapat pada pemeluk agama lain. Juga nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat dan kebudayaan mereka.
3.    Dialog adalah untuk keselamatan, dan keselamatan merupakan bagian dari tujuan total agama.
A. Mukti Ali memberikan petunjuk praktis berkenaan dengan rencana atau persiapan dialog antar pemeluk agama sehingga tercapai tujuan berdialog, yakni[8]:
1.    Memahami elemen-elemen yang sama dan berada dalam setiap agama, sejarah, dan peradabannya.
2.    Menghormati integritas agama dan kebudayaan orang lain.
3.    Memberikan sumbangan yang nyata untuk kehidupan antar agama yang harmonis.
4.    Mengukuhkan komitmen bersama untuk berusaha menciptakan kehidupan yang berkeadilan sosial dan menggiatkan pembangunan Negara.
5.    Berusaha bersama-sama untuk menciptakan kehidupan spiritual dan agamis.
Menurut Ngainun Naim arti penting tujuan yang sebenarnya dari dialog antar agama ialah bahwa umat beragama menyadari adanya persamaan dan perbedaan di antara mereka, tetapi etika dan perilaku agama-agama memiliki banyak kesamaan. Maka pertama-tama yang harus disadari adalah dialog antar agama bukan hanya bertujuan untuk hidup secara damai dengan membiarkan pemeluk agama lain ‘ada’ (ko-eksistensi) melainkan juga berpartisipasi aktif meng-ada-kan pemeluk agama tersebut[9].
Dengan semangat untuk mencari kebenaran terus menerus, dialog antar agama mempunyai fungsi kritis ad intra (ke dalam) dan ad extra (ke luar), yaitu kritis terhadap diri sendiri dan orang lain. Kritis terhadap diri sendiri dan orang lain harus dilakukan secara seimbang. Seseorang yang terlalu berat mengkritisi orang lain tanpa diimbangi kritis terhadap diri sendiri cenderung menjadikan sesorang menutup diri. Sedangkan terlalu kritis terhadap diri sendiri dan tidak kritis terhadap yang lain akan menjadikan kita terjatuh pada sikap naif karena menjadikan kita tidak yakin terhadap identitas sendiri. Orang yang tidak bisa menerima dan menghargai keunikan orang lain dan tidak mampu lebur dalam dialog adalah orang yang gagal memahami diri dan sesama. Dalam dialog seseorang harus memberi dan menerima. Dialog antaragama juga bukan sebagai wahana untuk menentukan agama mana yang paling benar.
Hans Kung mengingatkan pentingnya dimensi iman dan memperingatkan pengabaian dimensi iman dalam kegiatan dialog. Dialog antaragama tidak hanya bertentangan dengan iman, melainkan justru menjadi tantangan bagi setiap orang yang terlibat untuk mengembangkan kejujuran dan otentisitas imannya. Lewat doktrin atau tradisi, setiap orang ditantang untuk melihat segi konkret atau praktis dari iman.
Dialog sebagai fungsi kritis tidak terlepaskan dari kehendak setiap orang untuk mencari kebenaran terus-menerus. Kung mengingatkan bahwa kebenaran yang kita cari bukanlah kebenaran yang besifat “ready made”. Kebenaran ini bukan seperti barang-barang jadi yang dijejer dalam satu supermarket yang kita bisa kita ambil di saat kita membutuhkannya. Kebenaran menampakkan dirinya dalam hidup, sejarah, relasi dengan orang lain singkatnya dalam pergulatan hidup yang dinamis dengan segala ambiguitasnya. Kebenaran tidak identik dengan doktrin atau tradisi.
Dialog menjadi suatu harapan bagi kemanusiaan yang bisa ditawarkan oleh agama-agama. Di satu sisi ia menawarkan sebuah model yang bisa mengilhami seluruh kelompok masyarakat untuk saling terbuka dan saling menyumbangkan potensinya masing-masing demi membangun kehidupan manusia yang lebih aman, sejahtera, dan sentosa. Dengan dialog antaragama, umat beragama diharapkan dapat bersikap lebih toleran terhadap umat yang lain. Agama harus menjadi wacana spiritual yang menghadirkan rasa damai dan aman, bukannya perang dan pertikaian. Dan harus diingat, setiap manusia memiliki tanggungjawab untuk menolak dengan tegas diskriminasi dan intoleransi atas nama agama dan kepercayaan, sekaligus meneguhkan fungsi agama dan kepercayaan sebagai pendukung kemuliaan manusia dan perdamaian[10].
D. Bentuk-bentuk Dialog Antar Agama
Dalam tingkatan agama, dialog menuntut supaya setiap pihak membiarkan orang lain untuk mendalami keyakinannya dan mengamalkan keyakinan itu. Dalam jangkauan yang lebih luas, diluar para peserta dialog, dialog itu mengharuskan adanya kebebasan beragama, hingga setiap orang bebas menguraikan pandangan agama yang dianutnya kepada orang lain dan sebaliknya. Dengan begitu itu akan menjadi jelas perbedaan dan persamaan ajaran agama satu dengan yang lain. Dialog antaragama adalah suatu perjumpaan yang sungguh-sungguh, bersahabat, dan berdasarkan hormat dan cinta antar pemeluk agama.
Adapun bentuk-bentuk dialog antar agama adalah sebagai berikut[11]:
1.    Dialog Kehidupan
Dalam hal ini berbagai macam pemeluk agama dan kepercayaan hidup bersama dan bekerja sama untuk saling memperkaya kepercayaan dan keyakinan dengan perantaraan melakukan nilai-nilai dari agama masing-masing tanpa diskusi formal. Hal ini terjadi dalam sekolah, angkatan bersenjata, rumah sakit, industri, kantor, dan Negara. Dialog kehidupan merupakan pola hidup bersama yang saling menghargai di masyarakat.

2.    Dialog dalam Kegiatan Sosial
Tujuan dari dialog ini yaitu meningkatkan harkat manusia dan pembebasan integral dari umat manusia itu. Berbagai pemeluk agama dapat mengadakan kerja sama dalam pelaksanaan pembangunan, meningkatkan taraf hidup, membantu rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, dan meningkatkan keadilan serta perdamaian. Melakukan kerjasama dalam berbagai bidang kegiatan sosial tanpa memandang identitas agama masing-masing dan menggali kesadaran keagamaan untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang muncul secara bersama-sama. Di sini masing-masing pihak duduk bersama tanpa melihat identitas keagamaan tapi lebih fokus pada pencarian solusi bersama atas masalah yang muncul di tengah-tengah masyarakat[12].
Di Indonesia, proyek-proyek pembangunan memang dilaksanakan oleh rakyat secara bersama-sama tanpa memandang agama dan keyakinan. Dalam menangani proyek-proyek pembangunan yang bertujuan untuk menghilangkan kemiskinan dan kebodohan tidak didasarkan pada motivasi agama, tetapi didasarkan pada motivasi semangat kerja dan pembangunan. Sebenarnya kalau kerja sama semacam ini juga didasarkan kepada motivasi agama, maka dialog antaragama dapat menjadi permulaan yang baik sebagai komunikasi dalam menangani berbagai permasalahan sosial.

3.    Dialog Komunikasi Pengalaman Agama
Bentuk dari dialog ini ialah mengambil bentuk komunikasi pengalaman agama, doa, dan meditasi. Dialog semacam ini disebut juga dialog intermonastik. Contohnya, ada pertapa dari Katolik dan dari Budha[13]. Pertapaan tersebut bertujuan untuk medekatkan diri kepada Tuhan dan memperoleh pengalaman keyakinan. Hal ini tentu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Biasanya ini dilakukan oleh pemuka-pemuka agama atau seseorang yang benar-benar kuat keinginannya untuk melakukan pertapaan.

4.    Dialog Untuk Doa Bersama
Dialog ini sering dilakukan pada pertemuan-pertemuan besar atau internasional yang didatangi berbagai kelompok agama. Berbagai macam pemeluk agama datang untuk berdoa menurut keyakinan mereka masing-masing namun tetap dalam satu tujuan.

5.    Dialog Diskusi Teologis
Dialog ini merupakan tempat dimana ahli-ahli agama saling tukar menukar informasi tentang keyakinan, kepercayaan,  dan amalan-amalan agama lain serta berusaha saling menghargai dengan perantara diskusi itu.

Dialog antar agama paling tidak berlangsung dalam tiga level. Pertama, dialog tingkat wacana, yaitu dialog yang membahas masalah-masalah teologis yang muncul. Misalnya konsep Tuhan antara agama Islam dengan Kristen. Kedua, membagi (sharing) pengalaman spiritual, misalnya sama-sama berpuasa untuk menghayati kehidupan orang miskin. Ketiga, dialog dalam level aksi, yaitu para peserta dialog antaragama bersatu menyelesaikan permasalah sosial[14].

E. Metode Pendekatan Dalam Dialog Antar Agama
Dialog agama yang dilaksanakan secara sehat, cerdas, dan dewasa akan menjadikan kita sadar betapa kebersamaan dalam hidup beragama mampu menjadi pendorong munculnya sikap-sikap kritis yang sejati, tidak terhalang oleh perbedaan dan batas-batas formalisme agama. Dan jika dikatakan bahwa setiap agama mempunyai daya kritis sendiri dalam memahami realitas serta menjadi sumber moral bagi kehidupan yang bermakna, maka setiap pemeluk agama memiliki alasan kuat untuk mempertahankan imannya.
Untuk mendekati masalah persamaan dan perbedaan dalam agama, umat beragama bisa melakukan berbagai pendekatan yang bisa diambil sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing pemeluk agama[15].
1.    Pendekatan Mistikal
Dengan pendekatan ini pemeluk agama yakin bahwa pengalaman dan komitmen keberagaman seseorang bersifat amat subyektif. Hubungannya yang demikian intim antara hamba dengan Tuhannya tidak mungkin diceritakan secara tuntas melalui penuturan verbal sehingga orang lain belum tentu bisa memasuki atau menghayatinya. Bagi seorang penghayat mistik, keberagaman benar-benar merupakan aktivitas spiritual yang bersifat vertikal dan esoteris sehingga pihak yang bersangkutan mampu betoleran terhadap pengalaman orang lain yang menghayati keberagamannya.

2.    Pendekatan Rasional Dialogis
Yaitu dialog keberagamaan dimana masing-masing pihak berusaha menerangkan doktrin, paham, dan pengalaman imannya sehingga pihak lain bisa memahami keyakinana agama yang dipeluknya  secara rasional dan seobyektif mungkin. Dialog semacam ini akan maksimal apabila masing-masing pihak memahami ajaran agamanya secara baik dan mendalam, serta memiliki tingkat intelektual tinggi dan kesediaan untuk mendengarkan dan menerangkan doktrin-doktrin dari agama lain.


3.    Pendekatan Emosional-apologetik
Yaitu suatu dialog yang lebih tepat disebut perdebatan untuk mempertahankan keyakinan masing-masing sambil berusaha menaklukkan pihak lain agar mengikuti keyakinan dirinya. Dalam dialog semacam ini, argumen-argumen rasional akan dicoba dikemukakan tetapi semata-mata hanya untuk mempertahankan keyakinan yang telah ada.

4.    Pendekatan dialog-konfliktual
Yaitu suatu pertikaian pendapat yang emosional dimana sikap toleran dan argumen rasional tidak lagi berperan secara proporsional. Dalam hal ini masing-masing pihak telah mengambil sikap bahwa dirinyalah yang paling benar dan yang lain salah, serta pihak yang salah harus dibenci dan dimusuhi.

5.    Pendekatan sinkretis-resiprokal
Yaitu kedua belah pihak saling membuka diri dan berbagi pikiran, pengalaman, dan perasaan secara sukarela saling menerima dan membagikan pengalamnnya masing-masing.



PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dialog keagamaan muncul ketika hubungan antar umat beragama mengalami keretakan dan ketegangan. Dialog antar agama hakikatnya adalah pertemuan hati dan pikiran antar berbagai macam agama dan aktualisasi sekaligus pelembagaan semangat pluralisme keagamaan. Dialog antar agama dapat menjadi media komunikasi antar pemeluk agama dalam tingkatan agamis. Dialog bukan debat, melainkan saling memberi informasi tentang agama masing-masing, baik tentang persamaan maupun perbedaannya. Prinsip-prinsip dasar dalam dialog antar agama dapat berasal dari norma masing-masing agama, bisa juga berasal atas dasar pengalaman pribadi dari manusia beragama, baik pengalaman langusung maupun pengalaman atas dasar memahami fenomena beragama. dialog antar agama bukan hanya bertujuan untuk hidup secara damai dengan membiarkan pemeluk agama lain ‘ada’ (ko-eksistensi) melainkan juga berpartisipasi aktif meng-ada-kan pemeluk agama tersebut. Bentuk-bentuk dialog antar agama antara lain: dialog kehidupan, dialog dalam kegiatan sosial, dialog komunikasi pengalaman agama, dialog untuk doa bersama, dialog diskusi teologis. Beberapa pendekatan dialog yaitu: pendekatan mistikal, pendekatan rasional dialogis, pendekatan emosional-apologetik, pendekatan dialog-konfliktual, pendekatan sinkretis-resiprokal.



DAFTAR PUSTAKA
Ghazali, Adeng Muchtar, Agama dan Keberagamaan, Bandung:CV Pustaka Setia, 2004.
Ishomuddin , Pengantar Sosiologi Agama, Jakarta: PT. Ghalia Indonesia , 2002.
Moh. Shofan, Jalan Ketiga Pemikiran Islam, Yogyakarta: IRCiSoD. 2006.
Naim, Ngainun, Teologi Kerukunan, Mencari Titik Temu dalam Keragaman, Yogyakarta:Teras,2011.
Zaman, Ali Noer, Agama Untuk Manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Zubaedi, Islam dan Benturan Antar Peradaban, Yogyakarta: ARR-RUZZ MEDIA, 2007.


[1] Ngainun Naim, Teologi Kerukunan, Mencari Titik Temu dalam Keragaman, (Yogyakarta:Teras,2011), hal.106-107
[2] Adeng Muchtar Ghazali, Agama dan Keberagamaan, (Bandung:CV Pustaka Setia, 2004), hal167-169
[3] Ali Noer Zaman, Agama Untuk Manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, hlm: 75-80.
[4] Zubaedi, Islam dan Benturan Antar Peradaban, Yogyakarta: ARR-RUZZ MEDIA, 2007, hlm: 47-51.
[5] Adeng Muchtar Ghazali, ibid., hlm: 176-181.
[6] Adeng Muchtar Ghazali, ibid., hlm: 182-183.
[7] Ishomuddin , Pengantar Sosiologi Agama, Jakarta: PT. Ghalia Indonesia , 2002, hlm:113.
[8] Adeng Muchtar Ghazali, ibid., hlm: 181.
[9] Ngainun Naim, ibid., hlm: 124.
[10] Moh. Shofan, Jalan Ketiga Pemikiran Islam, (Yogyakarta: IRCiSoD. 2006), hlm: 208-216.
[11] Ishomuddin, ibid., hlm:107-109.
[12] Moh. Shofan, ibid., hlm: 217.
[13] Adeng Muchtar Ghazali, ibid., hlm: 185.
[14] Zubaedi, ibid., hlm: 50.
[15] Ngainun Naim, ibid., hlm: 125-126.

Komentar

  1. Wah...
    Senang bisa melihat dn membaca artikelny mbak dlm "Dialog Antar Umat Beragama". Sangat pluralisme dan agamawis. Itu mbuat sebuah pengalaman baru bagi umat tuk terbuka thdap keyakinan sesama dgn berpedoman teguh pd keyakinan yg dianut. Saya harap. semoga ini bukan hny sebatas wacana tetapi mnjadi ancuan tuk kita berpengalaman dgn Ilahi! Satu hal yg bisa saya garis bawahi semua agama, baik adanya. Ttpi timbul pertanyaan besar: bagaimana agama bisa menjawab "Pelunasan dosa dan Keselamatan di Akhirat utk Umat". Jika ad yg berpengalaman dlm hal tolong tuk berbagi

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Jangan lupa cantumkan nama penulisnya 😊 jadilah penulis yg baik

      Hapus

Posting Komentar

berkomentarlah dengan anggun dan cerdas